Dompu – Irfan (37), penderita tumor ganas di perut asal Desa Daha, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini tengah membutuhkan uluran tangan dari para dermawan.
Irfan adalah seorang duda. Ia hanya hidup dengan satu orang putri cantik yang baru berusia 8 tahun di rumahnya. Untuk makan sehari-hari, Irfan hanya dibantu oleh anggota keluarga dan tetangganya.
Irfan mengalami tumor sejak sajak dua tahun lalu, saat dirinya masih bekerja di kebun kelapa sawit di negara Malaysia. Sejak divonis mengidap kanker di malaysia, ia pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
“Sudah 2 tahun waktu saya di Malaysia, begitu saya diberitahu kalau saya ada tumor, langsung saya pulang ke Indonesia,” cerita Irfan saat ditemui di RSUD Dompu, Senin (25/10/2021).
Dia pulang ke Indonesia pun tak membawa apa-apa untuk bekal hidup di desanya. Irfan menyadari di kampungnya tak lagi memiliki istri dan hanya ada seorang putri dan keluarga.
Selama dua tahun mengidap kanker, Irfan hanya dirawat alakadar di rumahnya dan diobati dengan obat tradisional oleh keluarga. Selama ini, Irfan mengaku perutnya sampai bocor akibat kanker yang dialami.
“Tidak pernah dirawat di rumah sakit. Hanya sakit di rumah obati pakai obat tradisional kita disini. Dulu pernah bocor disini, tapi Alhamdulillah lukanya sudah membaik tapi sekarang perut saya membengkak,” ujar Irfan sambil menunjuk bekas luka bocor di perutnya.
Irfan mengaku, selama dirawat di rumah, dirinya bahkan tidak pernah mendapatkan perawatan maksimal dari petugas kesehatan Puskesmas Pembantu maupun Puskesmas Kecamatan di wilayahnya.
“Tidak pernah, kalaupun ada mereka hanya memberikan resep obat untuk saya beli dan tebus sendiri,” ucapnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kakak Perempuan Irfan, Intan (43). Dia harus pergi membujuk para petugas Puskesmas untuk melihat adiknya itu. Itupun tidak pernah melihat langsung di rumah hanya memberi resep obat untuk dibeli sendiri.
“Kita harus bujuk dan memanggil baru mereka mau menengok adik saya. Ketika kita meminta obat di Puskesmas, mereka hanya memberi kertas untuk obat dan kami beli sendiri,” tutur Intan.
Irfan kebingungan ditengah keadaannya. Dia mengharapkan adanya bantuan dari orang agar dirinya bisa mendapatkan kartu BJPS. Kini dirinya tengah dirawat di RSUD Dompu berbekal uang Rp 500 ribu dari anggota keluarganya.
Dia baru dirawat sehari di rumah sakit dan masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. Hingga kini dia belum mendapatkan jawaban apakah penyakitnya harus dioperasi. Kalaupun begitu, dia juga kebingungan mendapatkan biaya darimana untuk keperluan operasi. (igi)























