Siang itu, matahari mulai terasa terik. Waktu menunjukkan Pukul 11.00 wita saat Wartawan mengunjungi tempat tinggal Muhammad (20) putra dari Kamaluddin (61) dan Marhiah (56). Kamis, (15/4/2021).
Kedua orang tua Muhammad merupakan pasangan Suami Istri (Pasutri) penyandang disabilitas (Tuna Rungu). Beruntung tiga orang anaknya tidak memiliki kekurangan yang sama seperti orang tuannya.
Muhammad dan Keluarganya tinggal di rumah Kecil ukuran sekitar 36 meter persegi yang dibangun secara sederhana di Lingkungan Doro Mpana, Kelurahan Kandai 1, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu.
Kepada wartawan, salah seorang tetangganya mengatakan bahwa rumah mereka saat ini sudah cukup layak ditempati dibanding bangunan sebelum di renovasi. Rumah itu direnovasi melalui program Bedah rumah dari Pemda Dompu sekitar tahun 2016 lalu.
Muhammad adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakaknya yang pertama sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Saat ini, yang tinggal bersama kedua orang tuanya yakni Muhammad dan seorang adik perempuannya yang juga sudah tamat SMA.
Tahun lalu Muhammad telah menamatkan sekolahnya di salah satu sekolah Vokasi Negeri di Kabupaten Dompu (SMKN 1 Dompu).
Muhammad berasal dari keluarga yang sangat miskin. Dulu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ayahnya bekerja menawarkan Jasa angkut barang dengan menggunakan Gerobak Dorong di pasar. Sementara ibunya, hanya seorang ibu rumah tangga, yang kadang sesekali bekerja sebagai buruh tani harian dengan upah yang tidak seberapa.

Ayah Muhammad sudah berhenti bekerja sejak tiga tahun lalu akibat penyakit Ashma yang diderita sering kambuh. Begitupun sang ibu, karena kondisi fisiknya yang sudah tua memaksanya untuk banyak beristirahat dirumah.
“Sudah tiga tahun ayahnya Muhammad tidak mencari nafkah lagi karena penyakit sesak napasnya sering kambuh”, kata salah seorang tetangganya.
Saat ini, Muhammad menggantikan posisi ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. Dia harus bekerja banting tulang untuk kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
“Kadang saya dipanggil untuk mengecat rumah, memotong rumput dan pohon kayu di halaman rumah, kuli bangunan, yang penting menghasilkan uang buat makan,” ujar Muhammad.
Muhammad memiliki satu mimpi yang sangat ingin dicapainya. Remaja yang bertubuh tinggi kekar ini, sejak kecil bercita-cita ingin menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Demi mewujudkan mimpi yang mungkin menurut penilaian sebagian orang adalah hal yang mustahil mengingat kehidupan ekonomi Keluarganya yang serba kekurangan, Muhammad selalu menyisihkan sebagian uang penghasilannya dari bekerja untuk mendaftar masuk TNI.
“Saya mulai kumpul uang itu sejak SMP sampai sekarang,” ungkap remaja yang juga memiliki hobi memelihara Burung ini.
Bahkan, uang yang dikumpulkannya tersebut sudah habis dipakai untuk biaya pendaftaran Anggota TNI pada Bulan Maret 2021 lalu di Mataram. Saat itu jumlah uang yang berhasil dikumpulkannya sebanyak Rp. 8 Juta Rupiah.
“Uang itu saya gunakan untuk biaya selama mengikuti proses pendaftaran. Seperti makan, transportasi, tes Swab dan lain-lain,” katanya.
Sayangnya, dalam proses tes gelombang pertama itu Muhammad tidak Lulus. Namun keadaan itu tidak membuatnya patah semangat.
Remaja yang juga menjadi Muazin di Masjid di dekat tempat tinggalnya itu, masih bertekad untuk mengikuti pendaftaran gelombang kedua yang katanya akan dibuka sekitar pertengahan tahun ini.
Menjawab pertanyaan wartawan soal sisa uang yang dipakai mendaftar sebagai anggota TNI di gelombong pertama itu, Remaja polos ini sambil tersenyum menjawa, bahwa uangnya yang tersisa hanya tinggal Rp. 250.000,- saja.
Untuk biaya pendaftaran TNI di gelombang kedua nanti, remaja yang memiliki 3 burung bersuara merdu yang tergantung di halaman rumahnya itu dengan tegas mengatakan, bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga mengumpulkan uang meski hanya dengan bekerja serabutan.
“Saya mau kerja apa saja yang penting halal dan menghasilkan uang. Saya mau kumpulkan lagi untuk bisa mendaftar pak”, ucapnya dengan penuh semangat.
Cita-cita menjadi prajurit TNI sudah ada sedari kecil. Muhammad mengaku kagum ketika melihat anggota TNI yang bersikap tegas namun tetap ramah dengan rakyat biasa.
“Saya senang lihat tentara, tegas tapi kalau sama masyarakat selalu ramah. Saya juga suka tugasnya menjaga wiayah indonesia,” tuturnya.
Selain itu, Muhammad ingin membanggakan kedua orang tuannya, dan bertekad untuk mengangkat taraf kehidupan keluarganya.
“Saya ingin sekali membanggakan orang tua saya. Saya akan terus bekerja keras supaya bisa jadi tentara agar orang tua bangga,” tegasnya.
Tetangga di sekitar rumah pun mengetahui cita-cita Muhammad. Mereka bahkan sangat mendukung serta kagum kepada muhamad yang memiliki tekat dan berjuang untuk meraih cita-citanya.
“Kami sangat senang kalau muhammad bisa jadi Tentara. Kami kagum melihat perjuangannya untuk menjadi TNI. Muhamad orang baik dan tidak pernah mengeluh meski keadaannya yang serba kekurangan,” ujar salah satu tetangganya yang akrab disapa Tema dan dibenarkan oleh ibu paruh baya yang biasa dipanggil Bibi No oleh Muhammad. (Fauzy)
1,156
























