BANDUNG — Pemerintahan Provinsi NTB secara profesional meminta bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mendorong pemasaran sentra kulit dan kopi dari NTB yang tertuang dalam kerjasama Jabar-NTB Connection.
Bank bjb pun memfasilitasi kebutuhan itu dengan membawa dua debitur mereka di bidang kulit dan kopi sebagai percontohan.
Direktur Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif dan Inovasi (KREASI) Jawa Barat, Harry Mawardi mengatakan, adanya tiga kalender even internasional di Mandalika, harus dimaksimalkan dengan baik oleh NTB. Makanya, Gubenur NTB Zulkieflimansyah secara profesional meminta bantuan dari Jawa Barat melalui Gubenur Ridwan Kamil untuk transfer skill dari berbagai bidang.
”Sejauh ini, fokus dari NTB selama ini benar-benar terpusat pada sektor pariwisata. Sementara itu, Jawa Barat dengan bisnis pengelolahannya yang cukup besar dinilai bisa membantu dalam pemanfaatan teknologi dan SDM di NTB,” papar Harry, Selasa (29/12/2020).
Harry mengungkapkan, sentra kulit dan kopi di Jabar sudah terpasarkan dengan baik. Dan inilah yang kemudian ingin dipelajari oleh NTB.
Untuk bidang kopi, hingga saat ini belum ada roaster yang memiliki sertifikasi di NTB. Sementara di Jabar, roaster-nya sudah banyak yang tersertifikasi dan bahkan ada yang sudah diakui dunia.
Begitu pun dengan sentra kulit, NTB sebenarnya memiliki keunggulan ternak sapi dan kuda, namun yang menjadi persoalan adalah belum adanya unit usaha yang membidangi pengolahan kulit.
”Ini yang disayangkan dan ingin dipelajari dari Jabar. Tidak hanya untuk sepatu fesyen, tapi kulit yang nanti akan diolah di NTB juga akan didorong untuk pembuatan wearpack, sarung tangan hingga booth untuk balapan,” ujar Harry
Sebelumnya, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, memang menaruh perhatian besar pada pengembangan ekonomi kreatif di wilayahnya. Tidak heran, jika Pemprov Jabar memiliki lembaga nonstruktural yang diberi nama Kreasi (Komite Ekonomi Kreatif dan Inovasi) Jabar.
Maksud pembentukan lembaga Kreasi adalah untuk mendorong kolaborasi pemangku kepentingan ekonomi kreatif dalam melahirkan kreatifitas dan inovasi yang memberikan nilai tambah, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat.
Menurut Harry, Jabar didukung SDM ekonomi kreatif yang berpengalaman, pengetahuan industri kreatif yang luas, kemampuan produksi yang unggul, ditambah jejaring ekosistem ekraf yang handal. Tidak salah jika Jawa Barat menyandang predikat sebagai provinsi paling banyak memiliki unit usaha ekonomi kreatif di Indonesia dengan jumlah 1.504.103 unit usaha, sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018.
Dirincikannya, dalam Jabar NTB Connection, Branding Development direncanakan berlangsung Desember 2020 — Desember 2021. Salah satu acara inti adalah lomba logo Mandalika 2021 dan pengenalannya ke khalayak luas.
”Kick-off program pada 16-17 Desember 2020. Saat itu diadakan pelatihan packaging, desain grafis, pengolahan kopi, dan seni mengolah kulit,” urainya.
Lebih jauh Harry mengungkapkan, rangkaian pelatihan ditutup oleh pameran ekslusif, pada 17 Desember 2020 dengan nenampilkan hasil industri ekonomi kreatif. Di antaranya produk UKM kuliner, UKM hasil pengolahan kulit, UKM kopi, UKM kriya dan UKM fesyen, yang kesemuanya mendapat dukungan permodalan dari bank bjb. (rls/ac)
557
























