Dompu – Kepemimpinan Kader Jaelani dan Sahrul Parsan sebagai Bupati dan wakil Bupati Dompu periode 2020-2024 merupakan nahkoda perubahan bagi masyarakat. Dari tangan keduanya, ada harapan perubahan bagi Bumi Nggahi Rawi Pahu dalam kurung waktu 5 tahun pada berbagai sektor seperti sektor pertanian, sosial ekonomi, budaya, pendidikan hingga kesehatan.
Dikutip dari berbagai sumber, dalam perjalanan kepemimpinan yang sebentar lagi akan memasuki dua tahun, Kader Jaelani dan Sahrul Parsan telah menorehkan banyak prestasi atau pencapaian dalam program Jarapasaka (jagung, porang, padi, sapi dan ikan) sebagai program prioritas dalam mewujudkan visi-misi Dompu Mashur (Mandiri, Sejahtera, Unggul dan Religius)
Seperti pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 mencapai angka 4,89 persen. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan pada tahun 2020 yang hanya mencapai pada angka 3,21 persen.
Pencapain peningkatan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga berhasil dilakukan oleh Kader Jaelani dan Sahrul Parsan. Pada tahun 2020, IPM Dompu tercatat pada 67,84 poin namun di tahun 2021 meningkat menjadi 68,45 poin.
Tata kelola dan perencanaan keuangan pemerintah juga konsisten dilakukan, hal itu terbukti dengan diberikannya penghargaan oleh Pemerintah Pusat melalui Direktorat Jendral Perbendaharaan wilayah NTB. Salah satunya adalah penghargaan tentang daerah yang menyerap Dana Alokasi Khusus (DAK) paling cepat dari 9 Kabupaten Kota yang ada di NTB.
Sementara pada sektor kesehatan, Pemerintah Kabupaten Dompu mampu menekan angka stunting hingga 4,42 persen di tahun 2021 mencapai 14,3 persen dari angka 18,72 persen tahun 2020.
Pada Sektor Peternakan, terjadi peningkatan populasi ternak sapi 206.704 ekor (8.906 ekor). Sedangkan, luas tanaman lamtoro 257 Hektare pentingnya peningkatan padang penggembalaan.
Pemerintah juga telah memfasilitasi kegiatan Penguatan Kapasitas Peternak kepada 300 peternak Kabupaten Dompu pada bulan Januari, April dan Mei 2022 oleh Kementerian Pertanian kerjasama dengan BPTU HPT Denpasar.
Pada sektor pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Dompu telah menetapkan target yang akan dikerjakan dan dicapai pada permusim tanam maupun pertahun untuk komoditi jagung pada musim panen 2021/2022.
Dimana targetnya 52 ribu ton dan realisasi 62 ribu ton, artinya pencapaian 125 persen lebih dari target. Sedangkan komoditi padi target 41 ribu ton dan realisasi 23 ribu ton atau pencapaian 71 persen. Ini tidak mencapai target.
Sekelumit Tantangan Pada Bidang Pertanian
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Dompu Muhammad Syahroni, mengungkapkan, Dalam menjalankan program jara pasaka dengan segala keterbatasan yang ada, pada prinsipnya sudah berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan.
“Untuk komoditi Padi dan Jagung sudah berjalan sebagai mana mestinya. Cuma yang menjadi kendala adalah terkait nilai jual dan penambahan akan nilai tambah produk. Fluktuasi harga dan ketersediann sarana produksi seperti pupuk masih menjadi sebuah permasalahan yang harus di rampungkan,” ungkap Syahroni pada wartawan Sabtu (3/12/2022).
Syahroni menjelaskan, dari sisi proses budidaya dalam menaikan produksi relatif tidak ada masalah seperti serangan organisme penggangu tanaman baik itu hama penyakit, gangguan karena bencana alam.
“Dan juga kendala akan nilai tambah produk, seperti komoditi padi, kita masih fokus menjual dalam bentuk Gabah. Hal-hal seperti ini yang sampe sekarang harus kita upayakan perbaikan,” ucapnya.
Lalu Bagaimana dengan Porang ?
Porang adalah jenis tanaman penghasil umbi. Di kalangan masyarakat Dompu tanaman sangat tidak asing karena hanya dijumpai pada daerah atau wilayah tersebut. Porang menjadi salah satu komoditi program baru oleh Kader Jaelani dan Sahrul Parsan.
Kepemimpinan yang akan memasuki 2 tahun ini, program porang diketahui memiliki banyak kendala baik sebagai komoditi baru hingga areal tanam juga terutama soal pasar. Selain itu juga termasuk proses budidaya yang membutuhkan biaya produksi tinggi dan harus ada sentuhan dari investor.
“Terkait porang, permasalahannya adalah sebagai komoditi baru memang sangat terkendala akan perluasan areal tanam. Karena harus diakui faktor resiko kepastian pasar dan harga jual hrs benar-benar di antisipasi,” jelas Syahroni.
“Sehingga saat ini, porang hanya fokus pada demplot dan memperhatikan perkembangan porang yang telah ditanam secara swadaya oleh masyarakat,” tambahnya.
Apa Yang Telah Dilakukan Untuk Kemajuan Program Jara Pasaka Bidang Pertanian?
Syahroni menjelaskan, pemerintah telah melakukan upaya menyelesaikan persoalan yang ada seperti dengan mampu mengintervensi kenaikan harga jual jagung yang awalnya berada pada HPP Rp 3.100 naik menjadi Rp 4.200.
Saat ini pemerintah juga sudah mengupayakan adanya fasilitas Cord Drying Center (CDC) yang akan dibresmikan desember ini. CDC tersebut diharapkan dengan harga jagung akan bersaing sehingga dominasi gudang-gudang swasta selama ini yang mendrive harga ke depan akan memiliki kompetitor dan harga menjadi menarik.
Bagaimanakah Program Jara Pasaka Dimata Masyarakat ?
Hampir genap dua tahun kepemimpinan Kader Jaelani dan Sahrul Parsan menjadi Bupati dan Wakil Bupati Dompu pada Pilkada serentak 2020 lalu. Selama itu, program Jara Pasaka berjalan sesuai dengan harapan. Namun ada juga yang masih belum nampak di mata sebagian masyarakat.
“Program Jara Pasaka masih jauh yang diharapkan, belum ada yang nampak, jagung masih harga dibawah standar. Porang di mana lokasinya sampai hari ini terkuburkan oleh situasi dan kondisi yang carut marut, berapa pengadaan bibit sapi, serta air bersih yang dijanjikan,” kata salah seorang warga Simpasai, Bachrizal Baktiar.
Menurutnya, untuk menjawab keluhan masyarakat soal harga jagung yang masih jauh dari harapan, pemerintah harusnya membangun gudang melalui Perusahaan Daerah (Perusda). Nantinya gudang ini dikelola oleh sekelompok masyarakat untuk menyerap jagung masyarakat Dompu dengan harga yang dapat menguntungkan.
“Dengan harga jagung yang tidak stabil sekarang, segera buatkan gudang (Perusda) yang dapat dikelolah oleh Pemda, sehingga harga akan tetap stabil yang selama ini harga naik dan turun karena dimainkan oleh pihak pemilik gudang swasta (gudang pengusaha),” ucapnya.
Ditengah kekhawatiran masyarakat Dompu dalam menanam porang karena tidak adanya kepastian pasar, Bahrizal mengutarakan pemerintah harus berani untuk mendatangkan investor dan menyediakan lahan.
“Untuk program porang segera bentuk regulasi harga yang jelas serta sediakan tempat (lahan) atau hadirkan investor agar mau mengambil porang di Dompu. Maka dengan demikian, para petani akan berani menanam porang dengan jumlah besar,” bebernya (Faruk)
























