Oleh : Riadhatun Nafi’a
(Mahasiswi Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Mataram)
Tidak bisa dipungkiri, mengasuh anak merupakan hal terpenting. Baik oleh tenaga pendidik, masyarakat terlebih orang tua di lingkungan keluarga. Semakin baik pola pengasuhan yang diterapkan, maka semakin berkembang kemampuan kognitif, sosial, emosial, bahasa dan motorik anak.
Pada artikel ini, penulis ingin sedikit membahas beberapa pola pengasuhan yang umum diterapkan orang tua. Harapannya, mereka bisa memahami dan lebih memperhatikannya agar tidak salah dalam mengasuh anak. Orang tua yang baik, ialah mereka yang bertanggung jawab pada buah hatinya.
Diantara beberapan pola itu, pertama yakni pengasuhan permissif. Pola ini merupakan pengasuhan yang memberi kebebasan pada anak, artinya tidak mengekang mereka dalam melakukan sesuatu yang diinginkan. Seperti misalnya anak keluar rumah, orang tua tidak tahu kemana anak tersebut.
Dalam pengasuhan permissif ini, orang tua cenderung memberi wewenang pada anak untuk menentukan pilihan. Bahkan tidak ikut campur dalam pengambilan sebuah keputusan. Biasanya, cara ini membuat anak merasa kurang kasih sayang, sehingga sewenang-wenang mengambil tindakan.
Kedua yaitu pengasuhan otoriter, pola ini jelas berlawanan dengan konsep permisif, sebab orang tua lebih aktif mengekang anak untuk bertindak atau melakukan sesuatu sesuai keinginannya.
Dalam situasi yang tertekan, anak menjadi sulit menemukan keahlian mereka, baik di bidang pendidikan formal, seni maupun kegiatan lain yang dicita-citakan. Mengingat orang tua lebih mendominasi dan enggan mendengarkan pendapat anak, maka sang anak akan sangat mudah memberontak karena merasa pilihannya tidak dihargai. Selain itu, cara ini berpotensi menumbuhkan rasa tidak percaya diri pada anak akan kemampuan yang dimiliki.
Terakhir ialah pengasuhan demokratis,
pengasuhan demokratis bisa dikatakan pola pengasuhan yang paling baik, karena selain tidak mendapat kekangan orang tua, anak merasa dihargai akan ide atau gagasan yang dimiliki. Pola ini efektif menumbuhkan kedisiplinan anak, tentunya disertai bimbingan dan pengertian yang penuh dari orang tua secara obyektif dan rasional.
Jika orang tua menggunakan pengasuhan ini, maka anak akan terdidik untuk bertanggung jawab dan percaya diri akan kemampuan yang dimiliki. Terlebih bertindak sesuai dengan norma yang ada dalam keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Dengan beberapa pola dan kosekuensi atas pengasuhan yang diterapkan di atas, penulis berharap orang tua memilih pola yang tepat untuk melahirkan generasi yang berkualitas. Intinya, orang tua harus mau belajar menjadi ayah dan ibu terhebat bagi buah hati masing-masing. (*)
660
























